Puisi Rini Intama
kau palingkan wajah dan sudut mata mengerling tajam kau tak mengerti ! katamu pelan tak berintonasi tak ingin aku mengedip memandang kemarahan yang merah di sela waktu yang membusuk karena terlalu lama teronggok aku tak ingin bertanya lagi Mei ! (Surat Pada Mei) di persimpangan yang lindap kutebas pedang karat dipucuk rindu senyap kupinang darah pekat di dada nafasku megap di langit kisah kuat mengendap roda pagi arah barat melintang merah lambat angin resah suara lamat habis terlumat debu debu sapu sendu habiskan beku habiskan waktu habiskan rindu AKU DAN KATAKU A ku dan kata mencintaimu, menyelinap di antara syair syair mengalir bersama butir butir pasir laut, bukankah sama seperti ketika mencoba menumpahkan warna diatas kanvas seraya menunggumu, lantas langit dan awan bergerak pelan… Aku dan kata kerinduanku, menyelinap di antara derasnya makna aksara dalam untaian kalimat yang menumpah, sama seperti ketika gundukan tanah menggunung dan memuntahkan lahar…...