Puisi Rini Intama
kau palingkan wajah dan sudut mata mengerling tajam
kau tak mengerti ! katamu pelan tak berintonasi
tak ingin aku mengedip memandang kemarahan yang merah
di sela waktu yang membusuk
karena terlalu lama teronggok
aku tak ingin bertanya lagi Mei ! (Surat Pada Mei)
kau tak mengerti ! katamu pelan tak berintonasi
tak ingin aku mengedip memandang kemarahan yang merah
di sela waktu yang membusuk
karena terlalu lama teronggok
aku tak ingin bertanya lagi Mei ! (Surat Pada Mei)
di persimpangan yang lindap
kutebas pedang karat dipucuk rindu senyap
kupinang darah pekat di dada nafasku megap
di langit kisah kuat mengendap
kutebas pedang karat dipucuk rindu senyap
kupinang darah pekat di dada nafasku megap
di langit kisah kuat mengendap
roda pagi arah barat melintang merah lambat
angin resah suara lamat habis terlumat
angin resah suara lamat habis terlumat
debu debu sapu sendu
habiskan beku
habiskan waktu
habiskan rindu
habiskan waktu
habiskan rindu
AKU DAN KATAKU
Aku dan kata mencintaimu,
menyelinap di antara syair syair mengalir bersama butir butir pasir laut, bukankah sama seperti ketika mencoba menumpahkan warna diatas kanvas seraya menunggumu, lantas langit dan awan bergerak pelan…
menyelinap di antara syair syair mengalir bersama butir butir pasir laut, bukankah sama seperti ketika mencoba menumpahkan warna diatas kanvas seraya menunggumu, lantas langit dan awan bergerak pelan…
Aku dan kata kerinduanku,
menyelinap di antara derasnya makna aksara dalam untaian kalimat yang menumpah, sama seperti ketika gundukan tanah menggunung dan memuntahkan lahar… deburannya mengalir begitu saja menerabas segala
menyelinap di antara derasnya makna aksara dalam untaian kalimat yang menumpah, sama seperti ketika gundukan tanah menggunung dan memuntahkan lahar… deburannya mengalir begitu saja menerabas segala
Aku dan kata kemarahanku,
adalah ketika terbengkalainya air di sela jemari mengering, menggenggam dan cinta itu sendiri yang memberangus ego dalam kalut, takut atau pengecut. Ada sisa waktu yang berlari dalam rimbun hutan Halimun yang berembun lalu sepi…
adalah ketika terbengkalainya air di sela jemari mengering, menggenggam dan cinta itu sendiri yang memberangus ego dalam kalut, takut atau pengecut. Ada sisa waktu yang berlari dalam rimbun hutan Halimun yang berembun lalu sepi…
Aku dan kata kesetiaanku,
adalah merasakan butiran embun sisa malam yang datang pada dedaunan diantara kabut dingin yang menyatu ditanah yang membasah, didetak nadi hari lalu menunggu esok terus datang, meski tertunduk lesu
adalah merasakan butiran embun sisa malam yang datang pada dedaunan diantara kabut dingin yang menyatu ditanah yang membasah, didetak nadi hari lalu menunggu esok terus datang, meski tertunduk lesu
Komentar
Posting Komentar